Kisah 6 Foto Berpengaruh di Dunia (Bagian 1)

1. V-J Day in Times Square oleh Alfred Eisenstaedt (1945)

Fotografi menangkap cuplikan singkat yang menyiratkan harapan, kesedihan, keajaiban dan kegembiraan hidup. Alfred Eisenstaedt, salah satu dari empat fotografer pertama yang dipekerjakan oleh majalah LIFE, menjadikannya misinya “untuk menemukan dan menangkap momen yang memiliki kisah.” Dia tidak perlu pergi jauh untuk itu ketika Perang Dunia II berakhir pada 14 Agustus 1945. Saat sedang berjalan-jalan di New York City, Eisenstaedt segera mendapati dirinya berada di tengah kegemparan Times Square yang penuh sukacita. Ketika dia mencari subjek, seorang pelaut di depannya merangkul seorang perawat dan menciumnya. Foto yang diambil dalam momen penuh hasrat ini menyiratkan kelegaan dan momen kegembiraan yang tak terkendali (meskipun beberapa orang berpendapat kasus ini dapat dilihat sebagai pelecehan seksual). Foto indah ini telah menjadi foto paling terkenal dan paling sering direproduksi di abad ke-20, dan ini membentuk ingatan kita tentang momen transformatif dalam sejarah dunia. “Orang-orang memberi tahu saya bahwa ketika saya sudah di surga,” kata Eisenstaedt, “mereka akan tetap mengingat foto ini.”

2. Starving Child and Vulture oleh Kevin Carter (1993)

Kevin Carter tahu bau kematian. Sebagai anggota Bang-Bang Club, kuartet fotografer pemberani di era apartheid Afrika Selatan, ia telah melihat lebih banyak dari sekedar hancur hati. Pada tahun 1993 ia terbang ke Sudan untuk memotret kelaparan yang melanda wilayah itu. Lelah setelah seharian memotret di desa Ayod, dia menuju ke semak-semak yang terbuka. Di sana dia mendengar tangisan dan menemukan seorang balita kurus yang telah pingsan dalam perjalanan ke tempat pembagian makanan. Saat dia mengambil foto anak itu, seekor burung nasar gemuk mendarat di dekatnya. Carter tidak disarankan untuk menyentuh sang anak karena penyakit, jadi alih-alih membantu, ia menghabiskan 20 menit menunggu dengan harapan bahwa burung nasar itu akan segera pergi. Itu tidak terjadi. Carter mengusir burung tersebut dan mengawasi sementara anak itu terus menuju tempat pembagian makanan. Carter kemudian menyalakan sebatang rokok, berbicara kepada Tuhan dan menangis. New York Times memuat foto itu, dan para pembaca sangat ingin mengetahui apa yang terjadi pada anak itu — dan juga mengkritik Carter karena tidak menolong subjeknya. Foto ini dengan cepat menjadi studi kasus yang memilukan dalam perdebatan tentang kapan fotografer harus turun tangan. Penelitian selanjutnya tampaknya mengungkapkan bahwa anak itu bertahan hidup namun meninggal 14 tahun kemudian karena demam malaria. Carter memenangkan penghargaan Pulitzer untuk fotonya, tetapi kegelapan di hari yang cerah itu tidak pernah hilang darinya. Pada Juli 1994 ia mengambil nyawanya sendiri dan menulis pesan, “Aku dihantui oleh ingatan yang jelas tentang pembunuhan dan mayat dan kemarahan dan rasa sakit.”

3. Mushroom Cloud Over Nagasaki oleh Letnan Charles Levy (1945)


Tiga hari setelah sebuah bom atom yang dijuluki Little Boy menghancurkan Hiroshima, Jepang, pasukan AS menjatuhkan senjata yang bahkan lebih kuat yang dijuluki Fat Man di Nagasaki. Ledakan itu melontarkan debu dan puing radioaktif setinggi 45.000 kaki.

Bersambung ke bagian 2…